Minggu, 23 September 2012

Aku, aku

Aku yang bukan Aku

Malu mengatakannya, setidaknya seperti itu keadaanku sekarang. Aku kali ini hadir dengan edisi penuh lekuk dan kerut di wajah, persis cucian kusut baru diangkat, lengkap dengan panas matahari sisa jemuran. Diluar sudah gelap, sepertinya sama dengan isi otakku. Tapi aku berusaha untuk tetap menuangkannya dalam bentuk tulisan meskipun itu tidak jelas.
Masalahnya sepele, kawan, aku bertaruh kau akan tertawa ngakak meremehkanku. Aku, saat ini sedang sensitif. Ya, masalah bulanan yang kadang diidap wanita. Herannya, tidak banyak lelaki yang tahu. Namanya juga hal yang pribadi, tentu laki-laki tidak tahu tentang itu.
Mulanya aku standar, bersikap normal seolah dunia baik-baik saja. Tapi makin lama hari makin menjengkelkan. Aku tidak memiliki weekend, kau tahu?
Dan apakah kau tahu, bagiku itu adalah pencabutan kebahagiaan?
Aku mendamba sebuah waktu, untuk memanusiakan diriku.
Saat dimana aku bisa leluasa menjadi diriku sendiri, dan bukan suruhan mereka. Hei, aku bukan robot, iya, kan?
Bahkan, untuk memiliki Minggu pun aku tak sanggup...
Aku tak bisa memiliki hariku sendiri, padahal 5 hari kerja sudah ku gadai semua, berikut tenaga, pikiran, apalagi perasaan. Dan yang terakhir itu yang paling menyiksa, kau pasti tahu!
Maka, beginilah dampaknya, aku berdiri di depan cermin pun percuma, bayanganku sendiri menjadi orang asing yang baru ku kenal. Dan hatiku..
Oh, suara-suara itu, menjerit tersiksa, hampir-hampir aku tak mengenalinya lagi sebab terbiasa. Kau, apa yang akan kau lakukan jika menjadi aku?
Bersikap seolah semua ini tak pernah terjadi, hah?
Beri aku waktu, untuk memanusiakanku..
Apa itu berlebihan?
Aku, sekarang sangat merasa bahwa aku yang sekarang bukanlah aku..

Kamis, 20 September 2012

Tulisan Perdanaku

Sepotong Cerita di Gerbong Kereta

19 September 2012, hampir jam 8 pagi. Bagiku itu sudah siang. Maka aku terburu-buru naik kereta, takut terlambat masuk kelas alasannya. Begitu tiba di gerbong terakhir khusus wanita, aku mencari tempat duduk, tapi tidak kutemukan, semua sudah terisi penuh, maka aku bersama yang lainnya akhirnya berdiri berpegangan pada pegangan yang menggantung, tidak lama kemudian, aku mendengar seseorang memanggilku. Tentu aku menoleh, mencari pemilik suara. Oh, ternyata teman sekelasku. Aku mendekatinya lalu berdiri di depannya, kami mulai mengobrol, terlalu asyik sampai aku baru sadar kalau disampingnya itu ada orang asing. Dari wajah dan buku yang dibacanya, dapat disimpulkan bahwa ia adalah seorang gadis yang berkewarganegaraan Korea. Aku mengamatinya. Ia tampak serius dengan buku  yang dibacanya.
Saat itu kereta tiba di stasiun yang agak besar dan ramai, namun tidak bisa disebut stasiun pusat juga. Di stasiun itu ada beberapa orang yang turun, namun jumlahnya lebih banyak yang masuk atau naik ke kereta dibanding yang keluar atau turun dari kereta. Ada hal yang menarik disini.
Aku yang berdiri menghadap temanku masih asyik dengan obrolan kami. Tidak peduli pada penumpang kereta yang baru masuk. Saat itu aku mendengar suara anak kecil yang merengek pada ibunya, meminta untuk duduk. Ibunya lalu berjalan dengan menggandeng anaknya sambil menyisir tempat duduk dari depan, mencari kalau-kalau ada bangku yang kosong. Aku yang saat itu sedang mengobrol dan berdiri pula tidak peduli dengan keadaan ibu dan anak itu, meskipun aku sempat memerhatikan mereka. Nah, pada saat mataku tidak sengaja memperhatikan bule Korea itu, aku hampir heran, saat itu ia menyudahi bacanya, dan memperhatikan ibu dan anak itu. Tidak hanya itu, ia kemudian memanggil mereka dengan isyaratnya sendiri, yaitu, "ssuuut, hei, hei, sssuuutt!" sambil melambaikan tangannya. Pada awalnya ibu-anak itu tidak mengerti, siapa yang dimaksud gadis Korea itu. Namun karena penasaran, ibu itu pun menanyakan dengan isyaratnya juga, dengan cara menunjuk dirinya sendiri. Gadis Korea itu pun mengangguk, setelah ibu-anak itu mendekat, gadis Korea itu bangkit lalu berjalan ke pintu, seolah-olah ia akan turun di stasiun terdekat. Namun ternyata aku salah, ia kembali membuka bukunya dan meneruskan membaca. Ada hening sejenak di gerbong itu setelah kejadian barusan.
Kereta itu tiba pada stasiun berikutnya, penumpang semakin bertambah, aku melihat, ada satu-dua orang yang merelakan bangkunya untuk diduduki oleh wanita paruh baya dengan anaknya ataupun lanjut usia. Aku tersenyum kecil, namun bertanya, haruskah ada kejadian terlebih dulu yang membuat kita sadar untuk menolong sesama dan tanggap sekitar?
Sebagai orang Indonesia yang aku anggap menjadi tuan rumah tempat ia singgah, aku malu. Katanya orang Indonesia begitu ramah dan beretika, gemar menolong dan saling menghormati. Kepada siapa? Kenapa pada sesama orang Indonesia sendiri malah tidak? Kenapa harus orang asing yang mencontohkan kita? Katanya dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung, apa yang bisa kita junjung sekarang? Hal remeh temeh memang, tapi tidak bisa dipandang sebelah mata, kecil namun berarti, sedikit tapi mengena.
Dengan begini aku jadi penasaran, apa yang Gadis Korea itu pikirkan tentang Indonesia, sekaligus aku ingin berterima kasih padanya karena telah mencontohkan, sekaligus mengingatkan kembali tentang Budaya Orang Indonesia yang kian hari kian susut. 감사합니다 gamsahabnida! (dari Google translate, mohon maaf jika salah penulisan)  Nz :)